Selasa, 15 November 2011

Lingkungan Budaya Yang Kuat



Dikutip dari page facebook Rahmatan Lil-Aalamiin.

Ada ungkapan Latin yang berbunyi, "FORTEM QUIS LIBERO HAEREDITARIO CREABIT SOCIALI HABITU (Lingkungan budaya yang kuat dan kokoh akan membentuk kebiasaan-kebiasaan kolektif secara turun-temurun). 
Pernyataan ini bisa dibenarkan, karena salah satu kunci eksistensi peradaban adalah pemeliharaan nilai-nilai (PROVIDENSIA) yang tahan goncangan secara turun-temurun antar generasi.
Hari ini, ketika saya mengajar di Program Pasca Sarjana (Postgraduate), di luar materi perkuliahan yang saya ajarkan, ada suatu kebiasaan para mahasiswa yang menyentuh hati saya : 
  1. Walaupun ini kelas pasca sarjana, kebiasaan mengawali kuliah dengan doa dan kemudian mengakhiri jam perkuliahan dengan doa terasa sudah berakar kuat bagi pelajar/mahasiswa Bangladesh. Saya jarang melihat kebiasaan ini di Indonesia. 
  2. Walau sepintas saya melihatnya, tapi mayoritas mahasiswa selalu mengawali catatan kuliahnya dengan tulisan arab; BISMILLAHIR ROHMAANIR RAHIIM di pojok kanan atas lembaran buku. (Inipun sudah mulai luntur dalam kebiasaan pelajar/mahasiswa indonesia). 
  3. Tatakrama dan sopan-santun mahasiswa baik kepada dosen maupun kepada sesama memperlihatkan cermin budaya yang begitu luhur dan agung dipelihara di negeri ini.      
Saya berpikir, nilai-nilai islami ini, tentu tidak akan kokoh berdiri jika tidak didukung oleh institusi (lembaga keagamaan), ketokohan dan kehidupan keluarga yang berkarakter kuat.

    Tujuan Hidup


    Dikutip dari page facebook Rahmatan Lil-Alamin
    (Tulisan dibuat ketika beliau mmenjadi dosen tamu di   North South University, Bashundhara )

    Saya ingin share materi kuliah pagi tadi secara singkat. Salah satu topik yang saya bahas di kelas adalah persoalan KNOW YOURSELF (mengenal diri sendiri). Mengenal diri sendiri itu harus berangkat dari persoalan "apa maknanya anda melakukan sesuatu" (WHAT YOU ARE MEANT TO DO).
    Topik ini bersifat umum, dan ini sangat penting untuk dunia pendidikan dan juga bagi orang tua dalam mendidik anak-anak.
    Setiap orang memiliki tujuan dalam hidupnya (PURPOSE), tujuan yang ingin kita capai inilah yang mengidentifikasi siapa diri kita. Tanpa tujuan, hidup kita tidak akan bisa mewujudkan BE WHO YOU ARE (Tunjukanlah siapa diri anda). Dan siapa diri kita ini adalah wilayah AUTONOMY (mandiri), artinya kita bisa menjadi diri sendiri itu tidak ditekan dari luar diri kita (faktor eksternal) atau dibentuk secara paksa oleh orang lain, tetapi tumbuh dan berkembang secara ikhlas dari diri kita sendiri (faktor internal).
    Mengapa kita harus memiliki kemandirian? Karena manusia itu secara normal mempunyai hasrat/keinginan (PASSIONS), manusia bukan benda mati. Manusia diberi hasrat oleh Allah agar bisa memanifestasikan hasratnya, maka "kerjakanlah apa yang anda ingin lakukan (DO WHAT YOU WANT). Apakah kita bisa melakukan apa yang kita inginkan? Insyaallah bisa, karena Allah memberi setiap manusia anugerah (GIFTS) berupa potensi, bakat dan talenta. Maka, "lakukan apa yang anda bisa" (DO WHAT YOU CAN).
    Jadi, tujuan hidup itulah "visi", hasrat kita menjabarkan "misi", dan karunia-karunia (potensi dan bakat) adalah gambaran tentang kapasitas dan kompetensi kita.

    Keindahan Sejati


    Dikutip dari Blog Rahmatan Lil-Alamin

    Ada lagu lama yang berjudul PAPER ROSES (Mawar Kertas), dinyanyikan Marie Osmond, yang salah satu baitnya berbunyi, "Oh how real those roses seem to be, but they're only imitation, like you imitation love for me,, You seemed so full of sweetness at the start. but like a big red rose that's made of paper, there isn't any sweetness in your heart". (Oh, betapa nyata indahnya mawar itu tampaknya, tapi itu hanyalah imitasi, seperti kamu mencintaiku dengan cinta imitasi ..... Kau tampak sangat manis pada awalnya. tapi seperti "mawar merah besar" yang terbuat dari kertas, tidak ada manisnya dalam hatimu).
    Kita tentu tidak ingin seperti "mawar kertas", yang hanya mengandalkan keindahan luarnya, tapi di dalamnya gersang. Demikian juga cinta kita kepada Allah, tidak harus ditampakkan dengan sekedar penampilan belaka, ataupun lebih mementingkan simbol-simbol, atribut, acara-acara gebyar, karena, itu semua adalah asesoris keagamaan (tampilan luar), tapi seyogyanya dengan "kesungguhan hati".
    Imam Syafii pernah mengatakan "agama itu soal hati bukan soal penampilan". Satu hadits Qudsi juga menyatakan, FA INNII LA ANZHURU ILAA SHUWARIKUM WA LAA ILAA MAHASINIKUM WA LAAKIN ANZHURU ILAA MAA FII QULUUBIKUM FA ARDHAA 'ANKUM BI HAADZIHIL KHISHAAL (Sesungguhnya AKU tidaklah memandang kepada tampang rupa dan keindahan kalian, tetapi apa yang ada di hati kalian. Sedangkan Aku meridhoi dengan sifat itu (yang muncul dari hati) pada diri kalian) .
    Ya, betapapun juga, alangkah bijaknya, jika apa yang kita lakukan untuk Allah itu, "indah dalamnya, namun indah pula luarnya".